Kajian

Idlotunnasyiin, Pemantik Nasionalisme Pemuda Indonesia

Saya niati bismillah sinau bareng teman-teman.

Ngaji kali ini saya akan memakai kitab ‘idlotunnasyi’iin sebagai objek sinau kita.  Kitab ini ditulis oleh Syaikh Musthofa Al Ghulaayain.  Siapakah beliau dan bagaimana perannya?  Nanti akan kita bahas sebagai muqodimah atau pengantar pada sinau bareng ini.

Sebelum ngaji,  sejenak mari kita hadiahkan fatihah kepada guru-guru kita dan penulis kitab ini. Ila hadroti msyayikhina wa mu’allimiina wa khusjson ilaa muallifi hadzal kitaab Syaikh Musthofa Al Ghulaayain,  lahumul faatihah….

Sebelumnya mari kita kenalan dulu dengan penulis kitab ini, seperti pepatah yang sering kita dengar “tak kenal maka tak sayang”. Alangkah baiknya sebelum kita mulai membahas pokok materi mari kita kenalan dulu dengan penulisnya, adalah Syaikh Musthofa Al Ghulayain.  Seorang guru bahasa arab, akivis sosial, juga kyai muda sekaligus wartawan kelahiran kota Beirut,  Libanon pada tahun 1885. Beliau memulai karir sebagai guru sekaligus pimred sebuah media lokal bernama ‘Annibras’ di Beirut pasca kelulusannya dari Kairo,  Mesir.

Karirnya melejit seiiring dengan perjuangannya melawan penjajah Inggris pada waktu itu bergabung dengan berbagai pergerakan sosial seperti Organisasi Persatuan dan Perkembangan pada tahun 1910.  Bahkan ia turut berjuang melawan penjajah dengan bergabung menjadi relawan pasukan Turki Ustmani saat Kolonial Inggris berusaha merampas Terusan Sues di Mesir.

Hal ini berlanjut hingga Libanon mendeklarasikan diri sebagai negara independent, dan beliau pun turut serta sebagai relawan pasukan tentara Libanon.  Namun karir dalam dunia militer segera ia akhiri saat Amir Abdullah Ben Hosen menunjuknya sebagai Ustad dan guru ngaji putranya.

Tak lama menjadi ustad dengan kehidupan ala istana yang nyaman beliau kembali dipanggil lantaran tuduhan yg dilemparkan kepadanya sebagai pembunuh salah satu pejabat tinggi Pemerintah Libanon kala itu,  dan nasib malang mendapatinya.  Ia dipenjara selama beberapa kurun tahun hingga akhir perang dunia kedua sekitar tahun 1940 an.

Pasca PD II ia kembali lagi ke Beirut dan menjadi Penasehat Pengadilan Tinggi Agama hingga ia wafat pada tahun 1944. Karya-karyanya cukup banyak. Beberapa di antaranya telah berjasa menyukutkan kobaran semangat dan aksi heroik para santri untuk membela negaranya. Dari sini-lah muncul iatilah hubbul wathon minal iiman.

Dahulu,  kitab ini konon dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda.  Namun kitab ini berhasil lolos hingga sampai di Jawa dengan cara diselundupkan melali para jemaah haji yg baru pulang dari tanah suci. Kitab ini berjudul ‘idlotunnasyi’in yg berarti Nasehat untuk Para Pemuda.  Semoga kitab ini bisa menjadi tali kendali kita,  para pemuda di zaman yg banyak gelombang fitnah yg semakin merajalela,  Amin

Oleh: A. Jauhari Umar

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *